noverickog08's blog

mencari dan memberi yang terbaik

Obat yang Berpengaruh pada Saluran Pernafasan

FARMAKOLOGI
Farmakologi adalah ilmu yang berkaitan dengan obat, termasuk obat yang mempengaruhi saluran pencernaan, saluran pernafasan, dan saluran reproduksi. Berhubung saya sedang mengambil mata kuliah ini di jurusan saya, saya akan berbagi sedikit ilmu yang saya terima di kuliah kepada Anda semua.
OBAT SALURAN PERNAFASAN
Saluran pernafasan terdiri atas saluran pernafasan atas dan saluran pernafasan bawah. Saluran pernafasan atas: hidung, faring, laring, trakea, dan bronkus (primer, sekunder, dan tersier). Saluran pernafasan bawah adalah kelanjutannya: bronkiolus (primer, sekunder, dan tersier), ductus alveolaris, saccus alveolaris, dan alveolus. Bronkiolus tersier dapat dibagi lagi menjadi bronkiolus terminalis dan bronkiolus respiratorius. Dari kesemua saluran pernafasan tersebut, yang termasuk unit pernafasan adalah alveolus, saccus alveolaris, ductus alveolaris, dan bronkiolus respiratorius. Gangguan sistem pernafasan yang umum terjadi adalah asma, rinitis, paru obstruktif kronik, dan batuk. Secara umum, mekanisme kerja obat pada saluran pernafasan adalah merelaksasi otot polos bronkial dan memodulasi (menekan) respon peradangan.
ASMA
Asma dapat terjadi melalui beberapa langkah berikut. Jika ada paparan alergen (agen penyebab alergi) pada saluran pernafasan (utamanya bronkus), atau akibat menhirup zat iritan (zat yang dapat mengiritasi saluran pernafasan) yang menyebabkan hiperaktivitas bronkial, atau terdapat peradangan pada mukosa saluran pernafasan; maka terjadi respon tubuh. Respon tersebut antara lain kontraksi otot polos bronkus, inflamasi (peradangan) dinding bronkus, dan peningkatan sekresi mukus. Ketiga hal tersebut mengakibatkan konstriksi bronkus. Jika peradangan bronkokonstriksi yang terjadi akut, maka akan terjadi pernafasan singkat, batuk, sesak nafas, serta pernafasan cepat. OBAT yang biasa digunakan antara lain antagonis β adrenergik, kortikosteroid, kromolin, nedokromil, ipratropium, serta teofilin. PENGOBATAN ASMA dilakukan berdasarkan keparahan penyakit sebelum pengobatan.
Keparahan penyakit sebelum pengobatan Pengobatan
RINGAN: 2 x bronkokonstriktif per minggu Kromolin inhalasi; glukokortikoid inhalasi
BERAT: bronkokonstriktif harian Glukokortikoid inhalasi ditambah per oral
Meskipun kortikosteroid efektif untuk ASMA RINGAN, tapi harus dicadangkan untuk asma sedang & berat sampai resiko pengobatan yang lama dengan glukokortikoid inhalasi dapat ditegakkan. Terapi oral harian selang seling harus digunakan pada ASMA BERAT untuk meminimalkan efek samping sistemik.
RUTE OBAT
Rute obat adalah cara pemberian obat. INHALASI: obat langsung disalurkan ke jaringan tujuan (saluran pernafasan) , cara ini akan efektif dalam dosis yang tidak menyebabkan efek sistemik yang berarti. ORAL: melalui mulut. PARENTERAL: yaitu penyuntikan; dapat intra muskular (IM), intra vena (IV), intratekal, sub kutan (SC).

AGONIS ß2 ADRENERGIK
Agonis ß2 adrenergik berfungsi sebagai bronkodilator poten untuk merelaksasi otot polos. Akan tetapi, obat ini tidak punya efek anti inflamasi. Sehingga sebaiknya dikombinasi dengan obat lain. Obat ini memiliki masa kerja singkat : onset 15-30 menit , durasi 4-6 jam. Contoh: Epinefrin, Pirbuterol, terbutalin albuterol. Efek samping: takikardia, hiperglikemia, hipokalemia, hipomagnesemia. Obat yang masa kerja panjang adalah salmeterol. Salmeterol memiliki durasi lebih dari 12 jam akan tetapi tidak dapat digunakan untuk serangan asma akut.
Tabel 1. Onset dan durasi bronkodilator agonis adrenergik inhalasi
Onset (menit) Durasi (jam)
Epinefrin < 15 0,5
Isoproterenol < 15 3
Albuterol 15-30 4
Salmeterol 45-60 12
Metaproterenol < 15 4
Terbutalin <15 3

KORTIKOSTEROID
Kortikosteroid efektif untuk anti inflamasi. EFEK PADA PARU-PARU: tidak langsung memiliki efek pada otot polos, tetapi terjadi pengurangan jumlah & aktivitas sel-sel yang terlibat dalam inflamasi saluran nafas (seperti: makrofag, eosinofil, dan limfosit T). Inhalasi berkepanjangan: akan mengakibatkan menurunya hipersensitivitas otot polos. Efek kortikosteroid: menghilangkan edema mukosa, menurunkan permeabilitas kapiler, menghambat pelepasan leukotrien. FARMAKOKINETIK: (1) OBAT INHALASI: menurunnya kebutuhan pengobatan sistemik. Kelemahannya: 80-90% glukokortikoid inhalasi terkumpul di mulut dan faring atau tertelan. Sehingga hanya 10-20% yang masuk ke saluran pernafasan. Glukokortikoid dapat diabsorpsi di usus dan mengalami first pass effect di hati. Contoh:Betametason, triamsinolon, flunisolid. (2) STEROID SISTEMIK: Untuk asma berat diperlukan METILPREDNISOLON (IV) atau PREDNISOLON (oral). Setelah mengalami perbaikan dosis dikurangi bertahap. Efek samping jangka panjang penggunaan kortikosteroid : gangguan keseimbangan kalsium negatif yang berakibat osteoporosis; gangguan penyembuhan luka yang berakibat peningkatan resiko infeksi; peningkatan nafsu makan; hipertensi; edema (moon face, jerawat); ulkus peptikum; euforia; dan psikosis.
ANTAGONIS KOLINERGIK
Obat antikolinergik relatif kurang efektif dibandingkan agonis ß adrenergik. Obat ini bekerja menghambat kontraksi otot polos saluran nafas yang diatur oleh nervus vagus dan sekresi mukus. Contoh: ipratropium inhalasi (derivat atropin). Antagonis kolinergik digunakan untuk yang tidak bisa mentolerir agonis adrenergik. Onset sangat lambat dan relatif tidak ada efek samping.
TEOFILIN
Teofilin adalah bronkodilator yang membebaskan obstruksi saluran nafas pada asma kronis, mengurangi gejala penyakit kronik. Terapi teofilin telah digantikan secara luas oleh agonis ß adrenergik dan kortikosteroid. Teofilin diabsorpsi oleh saluran pencernan. Kelebihan dosis dapat menyebabkan kejang dan aritmia yang dapat menyebabkan kematian (rentang terapeutik yang sempit). Obat ini juga memiliki interaksi negatif dengan banyak obat.
RINITIS ALERGIKA
Rinitis alergetika adalah peradangan membran mukosa hidung yang ditandai oleh bersin, gatal pada hidung, ingus cair dan hidung tersumbat. Penyebabnya adalah adanya serangan alergen inhalasi (debu, serbuk sari, bulu binatang) yang berinteraksi dengan sel mast yang dibungkus oleh IgE, dibangkitkan sebagai respon terhadap paparan alergen terdahulu. Sel mast melepaskan mediator-mediator inflamasi: histamin, leukotrien dan faktor kemotaktik. Hal ini akan mengakibatkan spasme bronkiolus, penebalan mukosa (karena edema) dan infiltrasi selular. Terapi antihistamin oral dengan dekongestan. Efek samping sistemik dari rute oral (sedasi, insomnia, aritmia jantung). Oleh sebab itu pengobatan intranasal topikal lebih baik.
ANTI HISTAMIN (PENYEKAT RESEPTOR H1 )
Contoh kelompok anti histamin antara lain: difenhidramin, klorfeniramin, lorantadin, terfenadin, astemizol. Kesemuanya efektif untuk rinitis karena pelepasan histamin. Bila gejala rinitis disertai dengan sumbatan hidung, efektif jika dikombinasi dengan dekongestan.
AGONIS α ADRENERGIK
Obat ini merupakan dekongestan (mengurangi penjuluran epitel dan submukosa yang bengkak ke dalam lumen) nasal. Contoh obat yang termasuk agonis α adrenergik adalah: fenilefrin, oksimetazol. Obat ini bekerja menyempitkan arteriol yang berdilatasi pada mukosa hidung dan mengurangi reseintensi saluran nafas. Jika diberikan per inhalasi onset cepat dan efek sistemik kecil. Jika diberikan per-oral durasi lebih panjang tapi efek sitemik meningkat. Dapat terjadi “rebound” pada penggunaan jangka panjang.
KROMOLIN
Kromolin intranasal mungkin berguna, terutama bila pemberian sebelum kontak dengan alergen.
PARU OBSTRUKTIF MENAHUN
Penyakit ini bersifat kronik dan irreversibel sehingga pengobatan tidak menyembuhkan penyakit.
BATUK
Obat yang bekerja mengatasi batuk antara lain: kodein, hidrokodon dan hidromorfon. Ketiga obat di atas bekerja menurunkan sensitifitas pusat batuk di SSP terhadap rangsangan perifer dan menurunkan sekresi mukosa. Efek terjadi pada dosis lebih rendah daripada dosis untuk analgesik. Dekstrometorpfan (derivat morfin) bekerja menekan respons pusat batuk. Tidak punya potensi analgesik.